2.500 Bencana Alam Ancam Indonesia Tahun 2019
Belum usai penanganan dampak tsunami di Selat Sunda, bencana alamkembali menerjang wilayah Indonesia. Pada Senin, 31 Desember 2018 sekitar pukul 17.30 WIB, longsor menerjang Dusun Garehong, Desa Sirnaresmi di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Bencana alam menjelang malam pergantian tahun itu mengakibatkan 15 orang meninggal dunia. Hingga Rabu siang, 2 Januari 2019, 20 orang masih dilaporkan hilang tertimbun longsor
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi akan banyak bencana yang melanda Indonesia pada 2019. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, bencana hidrometeorologi akan mendominasi di tahun ini.
Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipicu oleh parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembaban, dan angin.
Bukan untuk menakut-nakuti, prediksi yang diperoleh dari tren bencana pada tahun-tahun sebelumnya ini dipublikasikan untuk membangun kesiapsiagaan.
Tak juga main-main, BNPB mengklaim jumlah tersebut diperoleh dengan perhitungan data yang terperinci. Seluruh data soal kebencanaan dari tahun ke tahun dan prakiraan musim diramu dan dianalisis secara teliti.
"Jadi kita memperkirakan tidak asal-asalan, sudah punya basic pengetahuan sebelumnya. Sistem pendataannya juga kita sudah tahu, ditambah dengan prediksi-prediksi yang ada, bagaimana musimnya, cuaca. Ya kalau geologi kan, kita sudah tahu, tidak bisa diprediksi, tapi tahu daerah-daerah mana kan (yang berpotensi)," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada Liputan6.com, Rabu 2 Januari 2019.
"Ketika kita bicara prediksi ke depan, analisis tren kejadian bencana, jika dilihat dari data yang saya miliki, dari tahun sekian sampai sekian, bencana geologi dan hidrometeorologi memang sama-sama naik trennya. Tapi lebih banyak hidrometeorologi," ujar Abdul Muhari ketika dihubungi Liputan6.com, Rabu 2 Januari 2019.
Lalu mengapa sebagian besar bencana yang bakal terjadi merupakan hidrometeorologi? Bencana seperti banjir, longsor dan puting beliung diprediksi masih akan mendominasi.
Abdul Muhari menjelaskan, bencana jenis ini lebih banyak terjadi karena ada campur tangan manusia. Fenomena alam terkait meteorologi, kata dia, mungkin tak akan sampai jadi bencana ketika tidak ada peran manusia.
"Ada yang namanya man made disaster. Misalnya alih fungsi lahan, penggundulan hutan, hutan mangrove jadi tambak. Potensi bencana tidak akan meningkat meski mungkin fenomena itu, misal gelombang panas ekstrem, terjadi. Kalau sebenarnya ekosistemnya baik, belum tentu jadi bencana," tutur dia.
Sementara untuk bencana geologi, dia tak bisa memprediksi. Terlebih, bencana ini sepenuhnya bergantung pada alam. Dan belum ada teknologi yang sejauh ini dianggap sahih dan mumpuni, misalnya untuk memprediksi gempa


Comments
Post a Comment